News

Indonesia Menghadapi Tantangan yang semakin Kompleks

Halo, kali ini saya mau membahas tentang ekonomi Negara lagi nih. Semenjak sering dipaksa Papa nonton berita dan diskusi ringan tentang politik dan ekonomi Negara, secara nggak langsung saya jadi suka ngikutin perkembangannya, walaupun Papa sudah nggak memaksa lagi.
 

PDB_6 nove 2017.cdr
source bps.go.id

 
Saat ini Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Karena saat pemulihan pertumbuhan ekonomi yang mendapatkan momentumnya di 2016 ternyata dibarengi dengan gelombang ketidakpastian.
Lalu, untuk melaju di atasnya, ekonomi dituntut untuk produktid dan efisien. Itu salah satu pesan dari dua diskusi panel pada acara peluncuran Biro Riset Ekonomi Indpnesia di Jakarta, Jumat (26/1). Pertama, diskusi panel mengusung isu kebijakan ekonomi internasional. Diskusi kedua mengususng isu kebijakan ekonomi nasional.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Bambang PS Brodjonegoro menyatakan, pertumbuhan ekonomi global mulai membaik sejak 2017. Namun lajunya masih di bawah tingkat pertumbuhan sebelum krisis financial global pada 2008.
Sementara di saat yang sama, sumber-sumber pertumbuhan global melambat. Kenapa? Ada beberapa faktor, yaitu :

  • Pertumbuhan ekonomi China yang berada di bawah level sebelumnya.
  • Populasi Negara-negara maju yang juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi global mulai menua.

 
Lalu perekonomian domestic juga menghadapi sejumlah persoalan struktural. Di antaranya adalah perekonomian yang masih berbasis komoditas. Padahal, transformasi struktural menjadi Negara industri harus dilakukan cepat. Akibatnya apa? Perekonomian Indonesia belum efektif dan produktif.
 

Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi

 
Selama periode 1967-1997, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 7,4 persen per tahun.
Periode 2000-2016, pertumbuhannya rata-rata 5,3 persen per tahun.
Tanpa reformasi struktural, rata-rata pertumbuhan ekonomi selama 2017-2025 adalah 4,7 persen.
 

Skenario Bappenas ini menggunakan asumsi di beberapa hal. Di antaranya adalah :

  • Investasi tumbuh rata-rata 5,5 persen per tahun.
  • Tidak ada peningkatan efisiensi pasar tenaga kerja.
  • Tidak ada reformasi di dunia pendidikan.

 
Indonesia butuh tumbuh rata-rata di atas 6 persen per tahun untuk menjawab banyaknya tantangan, seperti kemiskinan dan pengangguran. Indonesia baru akan naik kelas dari kategori Negara berpendapatan menengah pada 2038 jika pertumbuhan rata-rata sekitar 6 persen, peningkatan status akan terjadi pada 2034.
Tidak hanya butuh tinggi, pertumbuhan ekonomi juga harus inklusif. Karena ketimpangan akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi tidak berkelanjutan, ujar Menteri Bambang.
 

Ketidakpastian Kebijakan

Tantangan semakin rumit dengan adanya tiga tantangan baru. Apa saja itu?

 

  • Ketidakpastian kebijakan moneter Negara maju.

Akan langsung memengaruhi sistem keuangan dunia. Bagi Negara berkembang seperti Indonesia, pengaruhnya adalah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
 

  • Proteksionisme.

Ini berpotensi memicu perang dagang global sehingga tarif perdagangan global bisa naik 15 persen.
Menurut Shiro Armstrong dari Universitas Nasional Australia, cara mengatasinya adalah : Negara-negara di dunia mempererat kerja sama ekonomi kawasan. Asia bisa menjadi benteng yang menahan dampak negatif dari proteksionisme.
Salah satu instrumennya adalah mempererat kerja sama ekonomi komprehensif regional (RCEP). Jika RCEP tidak menaikkan tarif, risikonya terhadap pelambatan pertumbuhan ekonomi menjadi minim. Namun jika RCEP melonggarkan tarif, akan ada sumbangan pertumbuhan ekonomi dari perdagangan tersebut.
 

  • Teknologi disruptis.

Yose Rizal dari CSIS menyatakan, disrupsi digital merupakan tantangan serius bagi perekonomian domestik. Arus utama dalam wacana umum adalah bahwa teknologi digital akan membantu usaha kecil menengah mengakses langsung konsumen.

Leave a Reply

Your email address will not be published.