Health

How to Deal with Allergies

Tak sedikit orang yang hidup berdampingan dengan alerginya, lalu how to deal with allergies? Apakah jika memiliki riwayat alergi sejak kecil, maka akan selamanya seperti itu? Yuk simak pengalamanku dan juga krucilsku tentang alergi! 🙂

Sejak kecil, saya menyadari punya alergi dingin dan makanan laut saat saya terlalu banyak mengonsumsinya. Seringkali bersin-bersin yang susah berhenti, dan bintik merah di area mulut setelah kebanyakan makan udang atau kerang membuat saya berpikir “ah ya sudah, biarin” sejak usia sekolah dasar.

Beranjak dewasa ternyata saya bisa mengurangi alergi dengan makanan laut, sejak saya menjauhi makanan tersebut sekitar 7 tahun lamanya. Beruntung saat mencoba makan kembali, tidak ada reaksi tertentu, jadi saya simpulkan aman. Asal saya tidak makan banyak-banyak, maka santai saja. Tapi ternyata, saat dewasa inilah saya menyadari satu hal, yaitu ternyata saya juga memiliki alergi debu.

Tak heran, saat keadaan tidak dingin dan hidung aman dari angin, saya bersin-bersin dan merasa tenggorokan tercekat. Ya, saat itu saya sedang berada di dalam perpustakaan yang bisa dibilang kurang bersih. Lalu saat berada di gudang pun, saya merasa hal yang sama. Baiklah saya sudah ketemu jawabannya.

Sampai akhirnya saya memiliki anak, dari sini saya mengetahui bahwa alergi dapat diturunkan oleh orang tuanya. JDEERR! Sayangnya hal ini saya ketahui ketika anak sulung berusia 5 tahun. Ia mewarisi alergi dairy food, seafood, udara dingin, dan debu. Ada rasa menyesal yang teramat sangat, namun beruntung si sulung sehat-sehat sampai sekarang. Ya, untungnya 2 alergi pertama hilang bersamaan dengan tumbuh kembangnya.

Tinggal 2 alergi terakhir, yang sama seperti saya, masih setia hingga kini ia berusia 12 tahun. Lalu saat melahirkan anak keempat, ia juga memiliki alergi, tidak bisa mengonsumsi kacang tanah. Beruntung hanya alergi itu saja yang akhirnya hilang saat ia berusia 1,5 tahun. Namun si anak bungsu ini juga memiliki kulit super sensitif dan kering, sama seperti saya dan anak sulung.

Setelah berkonsultasi dengan dokter, memang alergi ini benar adanya dapat diturunkan dari orang tua ke anaknya. Untuk jenis kulit pun sama juga. Saya memiliki kulit super kering diturunkan dari mama, dan saya menurunkannya kepada anak pertama dan keempat. Sangat wajar kata dokter kulit yang saya ajak diskusi, ia bilang bahwa banyak yang pengalamannya sama seperti saya, diturunkan ke anak 1 dan 4. Walau saya anak nomor 2 dan satu-satunya yang memiliki kulit kering dibanding 2 saudara saya.

What do I do to deal with allergies?

  • Jauhi pemicu adalah hal yang paling mudah dilakukan oleh para pemilik alergi. Namun teori tidak semudah prakteknya ya? Apalagi kita harus bergaul dan berada di berbagai macam tempat juga.
  • Menutup wajah menggunakan masker adalah rutinitas saya walau di dalam rumah (sejak sebelum pandemi) namun masih sangat sulit untuk si sulung. Sehingga yang harus saya lakukan adalah ekstra dalam membersihkan debu di rumah. Padahal, saat membersihkan inilah merupakan perang yang sangat hebat bagi saya. Biasanya saya akan “tumbang” 1-2 hari setelah melakukan “deep cleaning”. Namun memang ini yg harus saya lakukan agar anak sulung tidak tersiksa dengan alergi debunya.
  • Olahraga teratur. Berjalan atau bersepeda 30 menit sehari sudah cukup membuat hidung terasa lega, apalagi saat dilakukan outdoor di dekat sawah.
  • Ke pantai. Saya dapat info ini dari ibu yang juga memiliki anak dengan alergi. Ia disarankan mengajak anaknya paling tidak setahun sekali untuk menghirup udara pantai yang minim debu. Ini juga yang membuat saya sering birthday trip ke pantai 🙂 Namun sudah 2 tahun kami off.

Gejala Alergi yang dialami

  • Bersin-bersin (bisa sampai 1 jam)
  • Sesak napas
  • Batuk
  • Hidung berair
  • Bengkak di beberapa bagian tubuh
  • Ruam merah
  • Mual dan muntah

Gejala ini yang sering kami berdua alami, makanya saya sekarang lebih ekstra dalam menjaga kebersihan, terutama saat si sulung mulai bersin, hidung tersumbat, batuk hingga muntah.

Diagnosis Alergi

Ada beberapa cara supaya kita tahu apakah memiliki alergi tertentu. Saat datang ke dokter, kita akan menjelaskan riwayat alergi yang apakah keluarga terdahulu memilikinya, lalu ada pilihan untuk tes tempel, tes tusuk kulit, pemeriksaan darah, dan juga tes eliminasi makanan.

Pengobatan Alergi

Jika alergi yang dimiliki termasuk berat, biasanya dokter akan berikan obat yang bisa mengurangi efek dari alergi tersebut. Kalau saya dan si sulung untungnya tidak sampai tahap yang berat, jadi masih aman dengan menjauhi pemicu alergi, dan ditunggu sampai efeknya selesai dalam beberapa jam.

Karena memiliki alergi dingin, maka saya dan si sulung kerap kali mengalami hidung tersumbat. Hal ini kadang membuat kami frustasi di tengah malam. Kalau badan inginnya merasa suhu yang dingin, tapi nanti hidungnya bermasalah, dilema sekali. Jadi saya memiliki beberapa cara, yaitu:

  • Menghirup uap hangat
  • Mengoleskan essential oil di dada dan punggung
  • Menggunakan diffuser saat malam hari
  • Mengonsumsi minuman hangat sebelum tidur
  • Membuang lendir berlebih yang ada di hidung

Begitulah nasib kami para pemilik alergi, walau tidak berat, namun sangat menyebalkan. Adakah yang bernasib sama dengan saya dan anak? Boleh share tips jitu ala keluarga kalian? 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *