DailyLife

Jaga Pola Hidup Seimbang dan Teratur Agar Remaja Sehat Bebas Anemia

Selamat Hari Gizi Nasional ke-61!

Pada 25 Januari 2021 kemarin bertepatan dengan hari gizi nasional, saya berkesempatan mengikuti live dari Kementrian Kesehatan yang bertemakan Remaja Sehat Bebas Anemia. Seperti apa sih pembahasan yang dibincangkan? Yuk simak artikel ini sampai habis ya..

Berkaitan dengan tema yang diangkat, yaitu Remaja Sehat Bebas Anemia , banyak sekali ilmu yang dapat diterapkan kepada remaja yang ada di sekitar kita (baik itu anak, ponakan, maupun disebarkan kepada sesama orang tua).

Gaya Hidup Sehat untuk Gen Z

Sebelumnya saya kira pola hidup sehat hanya tentang gizi, nutrisi, dan olahraga saja. Namun ternyata jika digali lebih dalam hal ini berhubungan semua. Apakah orang tua zaman sekarang sudah mengetahui gaya hidup anak muda sekarang? Sejak remaja banyak yang akrab dengan mengonsumsi minuman maupun makanan ringan, juga ketika beranjak dewasa rokok adalah hal yang “wajar” bagi mereka agar terlihat gaul dan kekinian.

Padahal rokok jelas memiliki efek yang buruk bagi tubuh semua manusia. Begitu pula dengan konsumsi makanan minuman ringan berlebih, karena tidak ada nilai gizi di dalamnya, dan pola makan yang tidak teratur. Padahal di usia remaja (12-18th) mereka masih membutuhkan asupan gizi seimbang setiap harinya lho!

Banyak anak remaja (terutama putri) yang suka melewatkan waktu sarapan dengan pikiran “sedang diet” dan akan makan siang di kantin sekolah/di luar dan tentunya makanan tersebut tidak bisa dipantau gizinya oleh orang tua. Banyak remaja menyukai makanan yang mengandung lemak, pemanis, dan minyak yang berlebih. Sementara seharusnya mereka tumbuh dengan banyak konsumsi buah, sayur, dan makanan olahan susu lebih rendah.

Bagaimana Jika Remaja Ingin Diet?

Jika di usia pertumbuhan mereka bersikeras ingin melakukan diet, padahal aktivitas yang dilakukan masih banyak, rasanya orang tua harus pintar-pintar memberikan edukasi dan perhitungan kalori yang dibutuhkan oleh anak.

Sarapan tetap tidak boleh dilewatkan oleh remaja yang ingin diet ya, karena ini adalah “bensin” untuk mereka mengawali hari. Makan siang bisa dikombinasikan dengan buah dan sayur, daripada mereka jajan sembarangan.

Remaja Juga Perlu Tahu Pedoman Gizi Seimbang (PGS)

Selain orang tua, tentunya para remaja juga harus mulai sadar akan pentingnya merawat diri, betul? Salah satunya adalah mengetahui Pedoman Gizi Seimbang agar tertanam di alam bawah sadar dan mengedukasi teman-teman lainnya juga.

Pedoman Gizi Seimbang ini memiliki 4 pilar utama, yaitu:

  1. Pentingnya pola hidup aktif dan berolahraga.
  2. Mengonsumsi makanan yang beraneka ragam (pantau gizinya).
  3. Menjaga berat badan ideal (sesuai TB dan ukuran badan: kecil, sedang, besar).
  4. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Peran Orang Tua dalam Mengajarkan Kebiasaan Baik

Remaja membutuhkan aktivitas fisik sedang hingga kuat selama 1 jam atau lebih setiap harinya. Aktivitas fisik cardio/ aerobic seperti lari, berenang, dan menari bisa dilakukan bersama dengan orang tua di rumah, maupun dengan mengikuti kelas olahraga online.

Tentunya sebagai orang tua kita harus aktif dan turut serta dalam kegiatan fisik dan pola makan yang sehat juga bukan? Karena anak akan selalu mengikuti apa yang mereka lihat sehari-hari. Jelaskan kepada remaja bahwa dengan rajin melakukan kegiatan fisik secara teratur akan memberikan manfaat yang baik kepada tubuh, antara lain: membuat bahagia, stamina menjadi baik, daya konsentrasi dan memori meningkat, bagus untuk kulit, menurunkan resiko terkena penyakit, lebih rileks, tidur berkualitas, dan bonusnya berat badan bisa turun.

person jogging
Photo by Daniel Reche on Pexels.com

Pasti akan seru sekali yaa jika sekeluarga sehat, dan remaja akan meng-influence temannya agar mengikuti gaya hidup sehat dan menyenangkan tersebut. Saya berterima kasih sekali dengan dr. Indah Kusuma karena telah memberikan pengingat bagi orang tua seperti saya.

Menurut Mbak Analisa Widyaningrum, M.PSi, Psikolog yang rajin mengedukasi followers instagranya mengenai kesehatan mental dan agar tidak “terintimidasi” dengan psikolog. Saat ini pasti banyak yang mengalami pandemi fatigue, dan tidak hanya orang dewasa melainkan remaja juga. Kebayang kan orang tua mulai capek dengan pembelajaran jarak jauh, merasa sulit mengajarkan buah hatinya yang sulit diatur dan tidak fokus atau malah kesulitan menangkap pelajarannya dan pilih melakukan hal lain?

Ternyata anak kita juga merasakan hal yang sama lho! Mereka jadi kehilangan masa bebas bermain dan berdiskusi dengan teman sekolahnya secara langsung dan terlalu “akrab” dengan gawai. Kejenuhan yang dialami mereka juga bisa mempengaruhi kesehatan mental dan psikisnya loh. Lalu apa yang harus dilakukan oleh para Gen Z supaya lepas dari kejenuhannya?

Mengatasi Kejenuhan Belajar Daring

Seperti yang sudah dibahas di atas, membangun kebiasaan baik untuk fisik dan psikis adalah hal utama, seperti istirahat yang cukup, dan sadar akan makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Mbak Analisa juga mengatakan bahwa mengatur jadwal belajar yang efektif, mencoba hal-hal baru, bersenang-senang, dan memiliki support system sangat membantu remaja dalam mengatasi kejenuhan belajar daring.

Orang tua juga dapat membantu anak mengatur jadwal belajar dan bersenang-senang dengan mereka agar tidak stress dan terburu-buru dengan beberapa hal yang berkaitan dengan sekokah (ini catatan untuk saya tentunya).

Remaja harus mengetahui keadaan dirinya

Seperti kelemahan, kekuatan, peluang dan ancaman apa yang ada disekitarnya. Ajarkan juga tentang cinta diri sendiri, hormat kepada semua orang, dan apa yang harus dilakukan saat mempunyai kesempatan/peluang, maupun ancaman.

#MudaSehatBebasAnemia

Saat ini lndonesia masih dihadapkan pada masalah gizi seperti prevalensi stunting, wasting dan obesitas, juga kekurangan zat gizi mikro terutama anemia yang masih menjadi tantangan besar.

Berdasarkan Riskesdas 2018 prevalensi anemia pada remaja sebesar 32 o/o, artinya 3-4 dari 10 remaja menderita anemia. Ini dipengaruhi dari kebiasaan asupan gizi yang tidak seimbang dan kurangnya kegiatan fisik.

Kementrian Kesehatan berusaha mencegahnya dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri dan ibu hamil. Selain itu, Kemenkes juga melakukan penanggulangan anemia melalui edukasi dan promosi gizi seimbang, fortifikasi zat besi pada bahan makanan serta penerapan hidup bersih dan sehat.

Harapannya kesehatan para remaja puteri akan semakin meningkat. lndonesia membutuhkan remaja yang produktif, kreatif, serta kritis demi kemajuan bangsa itu sendiri. Remaja dapat mencapai produktivitas dan kemampuan untuk mencipta yang maksimal serta mempunyai pemikiran yang kritis, jika mereka sehat.

Gejala Anemia yang harus diperhatikan adalah napas pendek, sakit dada, sakit kepala, pusing berkunang-kunang, letih, lesu, lemah, kulit pucat, dan lainnya.

Resiko anemia ada jangka panjang dan pendek.

Jangka pendeknya, jika remaja mengalami anemia, maka yang terjadi adalah: konsentrasi belajar turun, tidak produktif, mudah menderita penyakit infeksi.

Sedangkan jangka panjangnya adalah: Saat beranjak dewasa dan hamil, memiliki resiko perdarahan saat hamil/bersalin > meningkatkan resiko kematian pada ibu hamil. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan bayi, seperti berat badan dan panjang lahir rendah, resiko stunting > turunnya kecerdasan > resiko menderita penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabet, jantung dan dampaknya bisa sampai 3 generasi (dari ibu sampai ke cucunya).

Nah kalau sudah begitu, jadi agak sulit untuk menghilangkan tingkat stunting di Indonesia ya. Makanya bagi orang tua yang memiliki remaja, harus aware akan hal ini ya. Oh selain itu, anak usia di bawah 5 tahun pun juga harus dicek kebutuhan zat besinya.

Ada baiknya para remaja putri, ibu hamil, calon pengantin, dan wanita usia subur mengonsumsi tablet tambah darah. Tidak perlu cek Hb dulu sebelum meminumnya karena sangat aman. Bagi remaja putri yang tidak anemia bisa konsumsi 1 tablet tambah darah seminggu sekali dengan total 52 tablet selama satu tahun. Jika memiliki riwayat anemia bisa cek ke dokter terlebih dulu. Juga jika konsumsi TTD selama sebulan dan gejala letih, lesu, lelah, lemah, dan lalai masih belum hilang, disarankan untuk cek Hb (Hemoglobin).

Tablet Tambah Darah Tidak Berbahaya.

Tubuh memiliki mekanisme pengaturan penyerapan besi ke dalam tubuh. Sehingga saat tubuh punya cadangan zat besi yang cukup, maka TTD yang dikonsumsi akan diserap sedikit dan sisanya dibuang saat BAB. Sebaliknya, jika tubuh kekurangan zat besi, dan sudah bergejala anemia, maka TTD yang dikonsumsi akan diserap dengan sempurna oleh tubuh.

Konsumsi TTD setelah makan malam dengan air putih atau air jeruk. Jangan konsumsi dengan kafein atau susu yaa..

Yuk bangun generasi remaja yang sehat agar terbebas dari anemia agar menjadi kreatif dan produktif dan musnahkan angka stunting di Indonesia!

Leave a Reply